Antara Hati Nurani atau Nafsu
Antara Hati Nurani atau Nafsu
Penulis: Syariman
Narasi:opini
Di jalan-jalan Jakarta, seorang aparat kepolisian berdiri di atas mobil lapis baja, memandang kerumunan demonstran dengan mata yang tegas. Ia tahu bahwa tugasnya adalah untuk menjaga ketertiban dan keamanan, tetapi ia juga tahu bahwa ada manusia di balik kerumunan itu, manusia yang memiliki harapan, impian, dan hak untuk hidup.
Tiba-tiba, atasan memerintahkan untuk maju dan membubarkan kerumunan. Aparat itu tahu bahwa perintah itu berarti menggunakan mobil lapis baja untuk melindas kerumunan, dan itu berarti ada kemungkinan besar akan ada korban jiwa.
Aparat itu merasa dilema. Ia tahu bahwa menjalankan perintah atasan berarti mengorbankan nyawa manusia yang tidak bersalah. Ia juga tahu bahwa jika ia tidak menjalankan perintah, ia bisa terkena sanksi dan konsekuensi.
Di sisi lain, ia ingat ajaran Tuhan tentang pentingnya menghormati kehidupan manusia dan menjaga keselamatan sesama. Ia tahu bahwa jika ia memilih untuk menjalankan perintah atasan dengan mengorbankan nyawa manusia, ia akan merasa bersalah di hadapan Tuhan.
Namun, nafsu untuk menjalankan tugas dan takut akan konsekuensi membuat ia memilih untuk menjalankan perintah atasan. Ia mengabaikan suara hati nuraninya dan memilih untuk memprioritaskan prosedur daripada kemanusiaan.
Ketika mobil lapis baja melindas Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang tidak bersalah, aparat itu tidak merasa puas. Ia tahu bahwa ia telah mengorbankan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar prosedur. Ia telah mengorbankan kemanusiaan dan jiwanya.
Narasi ini menggambarkan bagaimana aparat kepolisian dapat terjebak dalam dilema antara menjalankan perintah atasan dan menjalankan perintah Tuhan. Meskipun mereka masih memiliki kemampuan untuk memilih, mereka seringkali memilih untuk memprioritaskan prosedur daripada kemanusiaan, yang dapat berujung tragis seperti kasus Affan Kurniawan.
Jika harus memilih, pilihlah yang tidak merugikan dunia dan akhirat-mu Kelak. Banyak cara dan kesempatan menentukan jalan hidup yang sehat, selamat dan menyelamatkan.
Komentar